Guru

Sebanyak 3 guru TK dan 37 guru SD di Bantul, DI Yogyakarta, dihentikan tunjangan sertifikasinya. Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), penghentian tunjangan itu terkait dengan keabsahan ijazah para guru tersebut.

Jupriyanto, Sekretaris Komisi D DPRD II Bantul, Kamis (5/8/2010) mengatakan, pihaknya telah menerima laporan penghentian tunjangan tersebut. “Dari laporan tersebut, penyebabnya karena ijazah mereka dianggap bermasalah. Ijazah diduga palsu,” katanya.

Komisi D akan segera memanggil dinas terkait untuk mengklarifikasi masalah tersebut.

Did you like this? Share it:

flora dan fauna

A.Penyebab Persebaran

  1. Tekanan Populasi, semakin banyak /bertambahnya populasi akan menyebabkan kebutuhan akan persediaan bahan makanan menjadi semakin sulit dipenuhi sehingga menyebabkan migrasi.
  2. Persaingan, ketidakmampuan fauna dalam bersaing dalam memperebutkan wilayah kekuasaan dan bahan makanan yang dibutuhkan juga mendorong terjadinya migrasi ke daerah lain
  3. Perubahan Habitat, berubahnya lingkungan tempat tinggal dapat menyebabkan ketidakmampuan dalam beradaptasi terhadap perubahan tersebut dan menjadi merasa tidak cocok untuk terus menempati daerah asal.

B. Sarana Persebaran

  1. Udara, dengan media udara fauna dapat bermigrasi dari kekuatan terbang sedangkan flora dapat menggunakan angin untuk bermigrasi dari berat-ringannya benih.
  2. Air, kemampuan fauna dalam berenang terutama hewan-hewan air menyebabkan perpindahan mudah terjadi.  Benih tumbuhan dapat terangkut dan berpindah tempat dengan menggunakan media aliran air sungai atau arus laut.
  3. Lahan, hampir semua fauna daratan menggunakan lahan sebagai media untuk berpindah tempat.
  4. Pengangkutan Manusia, baik secara sengaja ataupun tidak manusia dapat menyebabkan perpindahan flora dan fauna.

C. Hambatan (barier) Persebaran

  1. Hambatan Iklim, keadaan iklim terutama yang bersifat ekstrim dapat dapat menghambat persebaran misalnya kondisi temperatur, kelembaban udara dan curah hujan.
  2. Hambatan Edafik (tanah), tanah sangat berpengaruh bagi tanaman/tumbuhan karena sangat memerlukan unsur-unsur penting dalam tanah yaitu unsur hara, udara, kandungan air yang cukup. Lapisan tanah yang tipis dan keras membuat hewan-hewan yang terbiasa menggali tanah dan bertempat tinggal di dalam tanah memilih mencari daerah yang lapisan tanahnya tebal dan gembur.
  3. Hambatan Geografis, bentang alam muka bumi dapat menghambat persebaran flora dan fauna seperti samudera, padang pasir, sungai dan pegunungan.
  4. Hambatan Biologis, kondisi lingkungan yang cocok untuk hidup serta persediaan bahan makanan yang melimpah menjadi faktor penghambat flora dan fauna dalam bermigrasi. Hal ini berkaitan dengan kecocokan dengan kondisi alam.
Did you like this? Share it:

tarian Aceh

nsiabl=4%2E25&nsivbl=4%2E32&sdetail=f%253Arelated%252Crv%253AV2VriApiYDk&nsivbbl=189882&plid=AASNJlr1UAfKDC0R&el=detailpage&vid=p5iKOvfgz4S7lwQ9hrDE%5FqXK0QeNhGhtC&vw=352&fexp=900017%2C905602%2C900035&hl=en%5FUS&fmt=34&md=1&smoothing=1&w=609&sd=B4A7D0B02HH1281095957823350&csipt=watch&vh=208&debug%5FsourceData=B4A7D0B02HH1281095957823350&sourceid=yw&debug%5FplaybackQuality=small&debug%5FvideoId=GsIjWnqn8%5FE&debug%5FflashVersion=WIN%2010%2C0%2C32%2C18&screenw=1024&fs=0&screenh=768&playerw=640&playerh=391&debug%5Fdate=Fri%20Aug%206%2019%3A00%3A15%20GMT%2B0700%202010&cfps=0&scoville=1&nsidf=14&pd=51%2E787000000000006&feature=related&nsipbps=51816%2E364775575305&cr=US&h=360&nsiabbl=58866&referrer=http%253A%252F%252Fwww%2Eyoutube%2Ecom%252Fwatch%253Fv%253DV2VriApiYDk%2526feature%253Drelated

Did you like this? Share it:

gotong royong

Dahulu Indonesia adalah negara yang sangat kental dengan adat istiadat dan kebudayaan.Salah -satu adat istiadat yang di junjung adalah Gotong royong. Indonesia terkenal dengan sopan santun,bertoleransi dan saling membatu. Semakin majunya suatu bangsa maka semakin mempengaruhi kebudayaan dan adat istiadat bangsa itu sendiri, seperti bangsa indonesia, yang dulu sangat kental dengan gotong royong atau peduli terhadap orang lain sekarang sudah tidak perduli dengan penderitaan orang lain. Gotong royong hanya bisa dijumpai di pedesaan.

Did you like this? Share it:

Hanta Ua Pua

Suatu daerah pasti memiliki budaya dan ciri khasnya tersendiri yang bisa dijadikan sebagai simbol atau ciri khas dari suatu daerah. Begitu pula dengan daerah saya yaitu bima memiliki suatu upacara adat yang kami orang bima sebut HANTA UA PUA.
Sejarah Hanta Ua Pua ini sendiri saya tidak begitu jelas tapi menurut beberapa sumber yang berhubungan, Acara Adat UA PUA adalah suatu acara rutin dalam rangka memperingati hari lahirnya NABI MUHAMMAD SAW. tepatnya pada tanggal 12 rabiul awal.
Namun dalam acara adat UA PUA ini sendiri memiliki nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Bima yaitu dalam masa mengenang masa-masa masuknya islam di bima itu sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam buku Bo` Sangaji Kai, hasil suntingan Henri Chambert-Loir dan Siti Maryam R. Salahuddin (1999)
bahwa
Islam masuk ke Bima pada hari Kamis tanggal 5 Juli 1640 M, atau bertepatan dengan tanggal 15 Rabiul Awal 1050 H. Islam pertama kali dibawa ke Bima oleh dua orang datuk keturunan bangsawan Melayu dari Kerajaan Pagaruyung yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat. Dua datuk yang juga berprofesi sebagai saudagar tersebut bernama Datuk Dibanda dan Datuk Ditiro. Sebagian literatur menyebut keduanya dengan nama Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro. Selain ke Bima, dua datuk ini juga dikenal sebagai tokoh utama penyebar agama Islam di Pulau Sulawesi.
Masih mengenai Hanta UA Pua tersebut menurut ibunda Hj Siti.Mariyam, SH (Ketua Majelis Adat Dana Mbojo) Sisi lain dari upacara adat Hanta Ua Pua adalah momentum silaturrahim, khususnya rakyat Indonesia bagian timur yang sudah dilakukan sejak sekitar empat abad lalu.
Namun sejak tahun 1950-an saat peralihan pemerintahan dari Kesultanan menjadi Pemerintahan Swapraja, kegiatan ini terhenti dan tidak mampu sepenuhnya dihidupkan kembali. Tapi melihat kemauan dan masih tersisanya keluarga kerjaan di bima maka proses adat ini masih bisa terlaksana dari tahun 1980-an, 1990-an sampai saat ini masih ada kayaknya (soalnya saya ikut hanya 2003 lalu). Acara Ua Pua ini sendiri selain untuk memperingati hari kelahiran nabi muhammad saw, juga masih merupakan bentuk penghormatan Sultan Abdul Kahir Ma Ntau Bata Wadu (sultan Kerajaan Bima pertama) menganugerahkan sebidang tanah yang cukup luas kepada keduanya (Sebagai penghormatan atas jasa Datuk Dibanda dan Datuk Ditiro dalam pengusiran ). Kelak, tanah pemberian Sultan Bima ini dijadikan sebagai tempat tinggal kerabat dan keluarga mereka. Seiring dengan perkembangan masyarakat, penghuni kampung tersebut kian bertambah ramai. Dan, akhirnya perkampungan tersebut diberi nama Kampung Melayu (kampung ademataho :D ) yang hingga saat ini masih ada di bima dan sekarang masuk kota bima (kalau kampung ini dekat dengan kampung sarae “tempat tinggal saya”).
Proses berlangsungnya acara Hanta UA Pua ini seperti yang pernah saya ikuti di tahu 2003 dulu, kita star dari kampung melayu tadi untuk mengangkat sebuah rumah mahligai yang biasa disebut Uma Lige berukuran 4 X 4 meter2 terbuka dari empat sisinya beratap dua susun dan didepan Uma lige ini terdapat sebarisan pasukan berkuda yang terdiri dari dua pasukan ahli yaitu Jara Wera (wera saat ini merupakan nama suatu daerah yang ada di kabupaten bima) dan Jara Sara`u. Jara Wera adalah pasukan berkuda yang bertugas untuk mengawal Sultan Bima, sementara Jara Sara`u adalah pasukan berkuda yang digunakan untuk mengawal tamu kehormatan Kerajaan Bima. (penunggang-penunggang kuda ini adalah para pendekar yang mengantar datuk-datuk dari Makassar yang datang ke Bima melalui Teluk Bima untuk memperkenalkan agama Islam pertama kalinya). Di dalamnya, tampak jelas disaksikan puluhan ribu pasang mata di sepanjang jalan, empat perempuan menari Lenggo Mbojo dan empat laki-laki menari Lenggo Melayu, melenggak lenggok menebar senyum sembari mendampingi Penghulu Melayu, hingga ke tempat tujuannya di kawasan daerah kerajaan atau istana kerajaan sultan bima yang biasa di sebut ASI MBOJO, ini lah rangkaian kegiatan yang berlangsung ramai karena acara ini melewati beberapa kampung yang tentu saja di tonton oleh banyak orang. Selain dari itu juga ada nilai filosofi yang terkandung di dalam Uma Lige karena terdapat sebuah kitab suci Al-Qur`an dan Ua Pua/Sirih Puan, yaitu 99 tangkai bunga telur aneka warna dan hiasan yang dilengkapi dengan sirih dan pinang, dan 99 tangkai bunga telur itu melukiskan 99 nama-nama indah Allah SWT, atau Asmaul Husna. Uma Lige ini digotong oleh 44 orang pemuda dari berbagai kelurahan/kampung di Bima karena di mana masing-masing sudut Uma Lige akan digotong oleh 11 orang. 44 orang penggotong tersebut menggambarkan 44 jenis keahlian/profesi masyarakat Bima pada masa lalu ini lah nilai filosofinya.

Dalam rangkaian Hanta Ua pua Ini juga ada kesenian dan budaya bima yang sering di pertonton kan kepada masyarakat bima yang sengaja datang tadi untuk menyaksikan proses upacara tadi dan diantaranya budaya yang di pertontonkan adalah seperti; pertunjukan keahlian dari kedua pasukan berkuda tadi dalam menunjukan keahlian mereka dan kebolehan mereka dalam menunggang kuda, setelah itu atraksi dari pasukan kerajaan yang lengkap dengan baju-baju kebesaran prajurit kerajaan bima pada jaman dulu dan biasanya mereka memperlihatkan ketangkasan mereka dalam memainkan senjata, kemudian ada tarian Perang yang memperlihatkan bagaimana seni berperang,dan sejumlah kebudayaan dan seni lainnya. Dan semoga saja Upacara-Upacara Adat seperti ini tidak hilang di telan globalisasi dan ke modern yang merajalela dimana-mana. Mari kita pertahankan nilai-nilai budaya daerah kita dan jangan lupa kembangkan objek wisata yang ada dikota kita.

Did you like this? Share it:

umm

Did you like this? Share it:

kebudayaan bima…..

Museum Kebudayaan Samparaja di Bima NTB

Museum ini dibangun sejak tahun 1987 yang dirintis sekaligus didirikan oleh Hj. Siti Maryam R. Salahuddin (anak ke-7 Sultan Salahuddin – Raja Kesultanan Bima). Tujuan pendirian Museum Kebudayaan Samparaja ialah penyelamatan peninggalan Kesultanan Bima terutama naskah-naskah lama dari kepunahan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya daerah serta menjadikan museum sebagai sarana penelitian kebudayaan Bima. Status museum Kebudayaan Samparaja adalah museum pribadi yang terbuka untuk umum.

Koleksi yang dimiliki museum Kebudayaan Samparaja antara lain naskah-naskah lama berhuruf Arab dan berbahasa Melayu yang ditulis sekitar abad XVII – XIX Masehi. Naskah-naskah tersebut memuat berbagai ilmu pengetahuan dan sejarah pemerintahan Bima, hukum adat dan hukum Islam yang diterapkan di Bima, Ilmu Pertanian, kelautan, perbintangan, hubungan interaksi dengan daerah lain maupun pedagang dari negeri asing. Tidak ketinggalan Kitab La Nonto Gama menjadi koleksi utama juga yaitu berupa kitab-kitab Al Quran yang ditulis dengan tangan yang merupakan peninggalan langsung Kesultanan Bima. Selain kronik, manuskrip atau naskah-naskah lama, Museum Kebudayaan Bima juga mengoleksi benda etnografi budaya Bima, pakaian adat lama semasa Kesultanan Bima dari pakaian pangkat-pangkat adat, pakaian upacara adat, pakaian pengantin, pakaian adat anak-anak, ukiran kayu dan perak, serta keramik-keramik lama.

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka sebagian koleksi Museum Kebudayaan Samparaja terutama berupa naskah lama sudah dikonservasi dan didokumentasikan. Konservasi dilakukan dengan melaminasi naskah sebanyak hampir 2.500 lembar yang diperkirakan mampu bertahan antara 50 hingga 100 tahun yang akan datang. Pendokumentasian berupa digitalisasi dan mikro film juga telah dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Jakarta yang mencakup hampir 2.200 lembar naskah lama. Sehingga keseluruhan naskah lama (manuskrip) yang sudah dilaminasi, didigitalisasi, dan dimikrofilmkan hampir berjumlah 4.700 lembar baik naskah lepas maupun yang dijilid.

Guna mempublikasikan hasil penelitian dan memudahkan dalam pencarian naskah, maka Museum Kebudayaan Samparaja menerbitkan beberapa buku antara lain Katalogus Naskah Bima yang berjudul Katalogus Naskah Melayu-Bima Jilid I dan II yang disusun oleh Hj. Siti Maryam R Salahuddin dan Sri Wulan Rujiati Mulyadi; dan Transliterasi Bo Sangaji Kai (catatan-catatan Kerajaan Bima) ke dalam huruf latin yang sebelumnya menggunakan aksara Arab bahasa Melayu yang disusun oleh Henri Chambert Loir dan Hj. Siti Maryam R Salahuddin. Kedua publikasi tersebut menjadi rujukan peneliti di Indonesia dan dunia dalam mempelajari sebagian kebudayaan Kesultanan Bima melalui naskah atau manuskrip yang ditinggalkannya.

Keberadaan museum ini perlu didukung oleh semua pihak baik sekedar perhatian maupun pendanaan, terlebih status museum tersebut merupakan museum pribadi yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Museum Kebudayaan Samparaja juga mengundang para peneliti dan ilmuwan untuk melakukan studi naskah (manuskrip) yang menyimpan kajian Islam yang diterapkan dalam sistem kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat di Bima pada zaman Kesultanan Bima.

Did you like this? Share it:

wisata alam bima

WISATA ALAM CAMPA MADAPANGGA. Desa Campa yang Menyimpan Rahasia Alam. Campa adalah salah satu desa kecil yang letaknya di kabupaten Bima, NTB, khususnya di kecamatan Madapangga. Letaknya memang jauh dari keramaian, tetapi campa juga menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak orang yang belum tahu akan hal ini Wisata Alam - Air Terjun Campa, di Bima

Wisata Alam – Air Terjun Campa, di Bima

Did you like this? Share it:

pakaian adat bima….

Tembe Nggoli (Sarung Tenun) PDF Print E-mail
Wednesday, 02 May 2007
Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan.
Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
  • Hangat
  • Halus dan lembut
  • Tidak mudah kusut
  • Warna cemerlang lebih lama
Saat ini, Tembe Nggoli sudah diproduksi dalam berbagai macam corak dan motif. Ada yang ‘biasa’ (untuk dipakai sehari-hari), dan ada pula yang istimewa yang hanya dipakai pada acara-acara resmi.
Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita. Wanita Bima memakai sarung sebagai ‘bawahan’, bahkan masih ada yang menggunakan dua buah sarung, yang disebut “rimpu”. Rimpu adalah cara wanita Bima menutup aurat bagian atas dengan sarung sehingga hanya kelihatan mata atau wajahnya saja. Rimpu yang hanya kelihatan mata disebut “rimpu mpida”.

Cara memakai sarung antara pria dan wanita berbeda. Bagi kaum pria, sarung dipakai seperti layaknya kaum pria di Indonesia lainnya, yaitu digulung ketat pada perut/pinggang, yang disebut “katente”. Bagi kaum wanita, sarung tidak digulung melainkan dilipat dan diselipkan (dijepit agar tidak terlepas), yang disebut “sanggentu”. Selain itu perbedaan juga terletak pada posisi “bali” (yaitu bagian sarung yang diberi warna/motif berbeda, biasanya ditaruh pada bagian belakang ketika dipakai). Bagi kaum pria, ‘bali’ diletakkan agak ke kanan, sedangkan bagi kaum wanita ‘bali’ diletakkan agak ke kiri. Pemahaman tentang letak ‘bali’ ini menunjukkan tingkat pengetahuan pemakai sarung, atau menunjukkan ketelitiannya dalam berpakaian.

Masyarakat Bima juga menggunakan sarung sebagai selimut ketika tidur. Masyarakat yang tradisional bahkan tidak pernah atau tidak suka menggunakan selimut yang biasa, tetapi lebih nyaman menggunakan sarungnya yang hangat.
Did you like this? Share it:

istana BIMA…….

ASI MBOJO….

Mengintip Masa Lalu Lewat Bangunan
Bersejarah di Bima (1)

Puncak musim panas di Bima biasanya berlangsung sampai November. Terkadang berkepanjangan hingga awal Desember. Dalam kurun waktu itu udara di siang hari menyengat. Kota Bima selain lewat udara, dapat juga dicapai lewat darat dari Poto Tano, Sumbawa dan jalur laut. Perjalanan dengan mobil dari lapangan terbang Sultan Muhammad Salahuddin hanya sekitar 20 menit menuju Kota Bima. Jarak antara lapangan terbang dan pusat kota sekitar 20 kilometer. Di barat ada pelabuhan laut, jaraknya sekitar satu kilometer dari pusat kota.

Tidak banyak pemandangan menarik di sepanjang perjalanan selama musim panas, kecuali alunan ombak pantai Teluk Bima. Selebihnya gunung-gunung yang diapit pantai dan bukit-bukit gundul. Beberapa kilometer sebelum memasuki kota, kita menjumpai pelabuhan dan depot minyak Pertamina dan tempat rekreasi, Pantai Lawata. Pantai tersebut panjangnya lebih kurang setengah kilometer yang dinaungi oleh bukit berbatu. Ada beberapa bangunan di atas bukit di dekat pantai. Pada hari- hari libur, tempat tersebut banyak didatangi masyarakat. Lawata ibarat sebuah gerbang “selamat datang”, memberi isyarat bahwa perjalanan akan segera memasuki Kota Bima. Di mulut kota terdapat sebuah terminal bus yang bernama Terminal Dara. Dinamakan demikian karena terletak di Desa Dara.

Juga tidak banyak hal menarik yang ditemui di dalam kota, kecuali sebuah bangunan kuno Istana Bima atau akrab dikenal dengan Asi Mbojo, bangunan berlantai dua hasil perpaduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Istana ini menggantikan bangunan sebelumnya yang dibangun pada abad ke-19, yang bergaya Portugis. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding istana sekarang. Kini bangunan Istana Bima menjadi museum dengan nama Museum Asi Mbojo.

Memandang MuseumAsi
Mbojo sekarang, kita seperti

pergi ke masa lalu, ketika Kerajaan Bima berjaya. Bangunan yang pernah menjadi istana raja-raja Bima itu mampu bercerita banyak tentang masa lalu moyang orang Bima yang legendaris. Di sebelah timur areal istana berdiri Masjid Agung Bima. Dulu namanya Masjid

Agung

Al- Muwahidin. Sebelah barat adalah lapangan taman kota yang dulunya adalah lapangan sepak bola. Selebihnya adalah toko-toko, losmen-losmen dan pelabuhan laut. Kotoran kuda-kuda penarik “Benhur“, kendaraan

Did you like this? Share it: